
Prediabetes adalah kondisi kadar gula darah berada di atas batas normal, tetapi belum memasuki diabetes tipe 2. Prediabetes dianggap sebagai kondisi ringan, padahal sebenarnya kondisi ini merupakan tanda bahwa tubuh sudah mulai mengalami gangguan dalam mengelola kadar gula darah.
Prediabetes sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas, sehingga banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami prediabetes. Apabila tidak ditangani dengan tepat dan cepat, prediabetes dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2, karena tidak ada perubahan gaya hidup.
Prediabetes bukan sebatas pintu gerbang menuju diabetes. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko masalah penyakit lainnya, antara lain :
Gula darah yang dibiarkan berada di atas batas normal, maka semakin besar risiko terjadinya komplikasi kesehatan. Maka dari itu, lakukan deteksi dan penanganan yang tepat sejak dini untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Prediabetes terjadi akibat adanya resistensi insulin. Insulin adalah hormon yang berperan dalam mengatur gula dari makanan masuk ke dalam sel tubuh, dan diproses menjadi energi. Tubuh yang mengalami resistensi insulin tidak bisa memproses insulin dengan baik, dan menyebabkan penumpukan gula dalam darah.
Kadar gula yang menumpuk di dalam darah dan menumpuk dapat menyebabkan risiko prediabetes. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain :
Penyebab paling besar timbulnya penyakit adalah pola makan yang tidak sehat. Ketika seseorang sering mengonsumsi makanan tinggi gula, karbohidrat sederhana, makanan cepat saji, dan minuman manis secara berlebihan maka akan meningkatkan risiko prediabetes, serta penyakit lainnya.
Bukan hanya pola makan, aktivitas fisik yang kurang juga berisiko terserang penyakit. Saat tubuh kurang bergerak akan membuat tubuh kesulitan menggunakan insulin dengan maksimal.
Pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan berat badan berlebih. Saat tubuh kelebihan berat badan, risiko resistensi insulin semakin meningkat dan memicu timbulnya prediabetes.
Jika dalam keluarga terdapat anggota keluarga yang mengidap diabetes tipe 2, maka besar risiko anggota keluarga lainnya mengalami prediabetes. Orang yang dalam keluarga terdapat pengidap diabetes, sebaiknya melakukan pencegahan dua kali lebih besar dibanding yang lainnya.
Orang di atas usia 45 tahun memiliki risiko prediabetes yang lebih tinggi dibandingkan usia muda. Meski begitu, bukan berarti usia muda jauh dari risiko prediabetes. Saat ini sudah banyak kasus prediabetes dan diabetes tipe 2 di kalangan usia muda.
Kualitas tidur sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang. Jika seseorang kurang tidur dan kualitas tidurnya buruk, akan meningkatkan risiko gangguan gula darah karena metabolisme tubuh yang tidak stabil.
Prediabetes tidak timbul begitu saja, terdapat gejala spesifik yang perlu diwaspadai. Banyak yang menganggap gejala ini dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal sebenarnya gejala ringan yang disepelekan, akan memperburuk kondisi kesehatan. Berikut gejala yang harus diwaspadai.
Pada beberapa kondisi, biasanya terdapat area kulit yang menggelap dan terasa lebih tebal pada bagian leher, ketiak, dan lipatan tubuh. Kondisi ini berkaitan dengan resistensi insulin.
Prediabetes dapat dicegah dengan cara mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Lakukan cara ini untuk mencegah prediabetes sejak dini.
Pola makan adalah salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap prediabetes. Kurangi mengonsumsi makanan tinggi gula, dan makanan olahan. Mulailah makan real food yang kaya akan nutrisi, seperti sayuran, buah-buahan, protein tanpa lemak, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
Aktivitas fisik membantu tubuh memproses insulin dengan lebih efektif. Sebaiknya olahraga minimal 150 menit dalam seminggu dengan intensitas sedang. Olahraga yang bisa dilakukan seperti jalan cepat, bersepeda, berenang, jogging, dan senam.
Orang dengan berat badan berlebih memiliki potensi prediabetes lebih tinggi dibanding orang dengan berat badan ideal. Penurunan berat badan sekitar 5-10% dari berat badan awal dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kontrol gula darah dan sensitivitas insulin.
Konsumsi minuman bersoda, kopi dengan tambahan gula berlebih, dan minuman lainnya yang mengandung gula tinggi dapat meningkatkan kadar gula darah lebih cepat. Kurangi minum minuman manis dengan memperbanyak minum air putih, infused water, dan air kelapa tanpa gula.
Stres yang berkepanjangan berpengaruh terhadap hormon tubuh, sehingga menyebabkan kadar gula darah tinggi. Kelola stres dengan cara meditasi, yoga, jalan santai, mendengarkan musik, dan menjalankan hobi untuk mencegah kadar gula meningkat.
Saat tidur, tubuh memulihkan hormon dan menjaga metabolisme. Ketika kurang tidur, dapat meningkatkan resistensi insulin, dan membuat tubuh sulit mengontrol kadar gula darah. Biasakan tidur 7-9 jam dalam semalam untuk menjaga keseimbangan hormon dan metabolisme tubuh.
Merokok dapat meningkatkan risiko resistensi insulin dan banyak penyakit lainnya. Hentikan kebiasaan merokok sebagai langkah penting untuk menjaga kesehatan tubuh dengan maksimal.
Prediabetes dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Sebaiknya tetap lakukan pemeriksaan kesehatan meskipun tidak terdapat gejala gangguan kesehatan. Tujuannya agar potensi munculnya penyakit bisa dideteksi dan dicegah lebih awal.
Pemeriksaan kesehatan disarankan dilakukan bagi orang yang terbiasa melakukan pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan memiliki riwayat penderita diabetes dalam keluarga. Yuk, mulai hari ini cegah risiko prediabetes dengan menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin!